Tag

Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Dalam suasana Ramadhan tepat di pertengahan bulan puasa, terjadi sebuah tragedi yang menyayat hati.

tak terasa air mata mengalir begitu saja saat membaca berita di harian kompas yang meliput mengenai kejadian naas tersebut.

Sungguh memilukan hati, keinginan mendapatkan bantuan yang dilatar belakangi oleh kemiskinan harus berakhir dengan kesedihan yang mendalam. Tak terbayang betapa sebagian keluarga harus kehilangan anggota keluarganya untuk selama-lamanya. Tidak tanggung-tanggung 21 nyawa melayang.

Andaikata ingin menyalahkan, kita semua hanya perlu intropeksi diri masing-masing.

antara jerat kemiskinan, rasa kemanusiaan, sampai teknis penyaluran kedermawanan… sebuah pelajaran berharga jika segala sesuatunya tidak dipersiapkan dengan matang. akan tetapi menjadi sebuah renungan apabila kenyataan diluar dugaan seseorang.

semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan menjadi teguran buat kita semua.

“Jangan Maju, yang Depan Tertindih”
Warga yang sebagian besar para ibu berdesakan dan terinjak saat berebut zakat dari dermawan bernama H Saikhon di Gang Pepaya, Jalan dr Wahidin, Kelurahan Purutrejo, Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9).

Selasa, 16 September 2008 | 08:40 WIB

Laporan wartawan Surya, Abdus Syukur

PASURUAN, SELASA – Sebagai saksi mata dalam berbagai peristiwa, wartawan sering kali dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kemanusiaan dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Tidak heran bila sejumlah wartawan yang meliput pembagian zakat bagi ribuan fakir miskin dari Haji Soikhon ikut larut dalam emosi. Mereka tidak tega melihat peristiwa memilukan yang membuat air mata menetes, bahkan menangis tersedu tanpa disadari.

Wartawan juga manusia, itulah gambarannya. Berbagai perasaan bercampur aduk, mulai dari rasa tidak tega melihat penderitaan fakir miskin yang terdesak hingga tewas disertai perasaan marah melihat kemiskinan yang begitu luas sebagai kebalikan dari segelintir manusia Indonesia yang hidup bergelimang kemewahan.

Tidak heran dalam kondisi suasana seperti itu wartawan, termasuk dari harian Surya, memilih untuk mendahulukan kemanusiaan daripada melakukan peliputan. Wartawan pun mengorbankan kesempatan mengambil gambar peristiwa untuk menolong para korban dengan berbagai cara, mulai dari menarik ibu-ibu yang tertindih hingga menggendong nenek-nenek yang terjepit.

Saksi-saksi mata ini juga mencoba mengendalikan situasi agar korban jatuh tidak makin banyak. Teriakan-teriakan sekuat tenaga pun terdengar. “Hai, bu, minggir. Ojo mekso maju, sak aken seng ngarep ketindian (jangan maju, yang depan tertindih dan tergencet). Sampean menengo dikek (kamu semua diam dulu), ayo mundur. Iku loh deloken onok sing mati ngarep pager,” teriak Surya berkali-kali hingga pita suara seakan hendak putus, dari atas pagar kepada kerumunan pengantre zakat bagian belakang.

Sembari berteriak, Surya dan sejumlah wartawan lain mencoba mengangkat wanita renta yang posisinya terjepit. “Ayo terus bu, menek, mencolot pager. Hai rek, iki tampanono wis gak kuat ngadeg (hai rek–kawan wartawan maksudnya–ini dibantu karena sudah tua tidak kuat lagi berdiri),” tutur Surya.

Aduh aku wis gak kuat jupuk gambar, gak tego yek (aduh saya tidak tahan lagi dan tidak tega). Ayo wis ditulungi ae (ayo sekalian dibantu mereka semua),” ujar Krisna Misbah, reporter Metro TV, dan Ersa Priyongko, reporter Trans TV, bersama sejumlah wartawan lainnya.

Tak ayal karena upaya menolong itu, foto-foto kejadian banyak sekali yang terlewatkan. Namun, meski berusaha keras, jumlah wartawan yang menolong tidak memadai di tengah ribuan pengantre zakat. Bahkan, saat di depan pagar terlihat ada beberapa ibu yang lemas tidak bisa bernapas dan meninggal, Surya tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak terasa air mata menetes dan perasaan marah pun tidak terbendung lagi.

Khi (saudara, disampaikan Surya kepada Vivin putra H Saikhon), yak opo iki (bagaimana ini). Ente ojok meneng thok leh, ayo golek coro carane yak opo ben podo selamet dan gak tambah korban (kamu jangan diam saja dan mari mencari cara agar semua terselamatkan),” kata Surya dengan nada emosi.

Untungnya segera ditemukan cara memecah konsentrasi antrean dengan membagikannya dari luar lokasi sehingga kerumunan antrean sedikit longgar. Namun, upaya itu ternyata sudah terlambat. Korban yang tewas ataupun pingsan sudah terlanjur banyak. Saat polisi datang dan membubarkan kerumunan, korban tewas makin nyata berserakan dan bertumpuk di depan pintu gerbang Mushala Roudlotul Jannah.

Spontan air mata kesedihan tidak dapat terbendung lagi. Dengan air mata yang terus menitik Surya bersama sejumlah wartawan lainnya, seperti Abd Kadir, Memorandum, Zainal Arifien, dan Radar Bromo, serta sejumlah warga mengangkat tubuh-tubuh lemah itu satu per satu ke mobil patroli polisi ataupun tempat lainnya untuk dievakuasi.

Saat melihat banyaknya korban Surya belum berani memastikan jumlah yang tewas, khawatir salah. Sebab, antara yang meninggal dan yang pingsan tetapi detak nadinya lemah sulit dibedakan. Karena itu, saat melaporkan kejadian ke redaksi pada Senin (15/9), Surya hanya menyebutkan kisaran 10-15 orang yang meninggal.