Metode Aplikatif dalam Memacu Kreatifitas Anak
Written by Sri Sumiyati, Mahasiswi STIT NF
Friday, 17 July 2009 11:07

Di dunia pendidikan tidak ada istilah anak nakal, yang ada anak kreatif. Kretifitas anak bukanlah produk instan melainkan proses pembelajaran yang terus-menerus dan dimulai sedini mungkin. Untuk memunculkan anak kreatif, galilah kreatifitas anak sejak kecil. Karena merekalah ciptaan Allah yang paling kreatif pemilik masa depan. Beberapa pendapat mengenai istilah kreatifitas yang diungkap oleh pendidik maupun psikolog: imajinatif, pemikiran orsinil atau pemecahan masalah, kualitas atau proses yang menghasilkan produk kreatif, kemampuan berpikir beragam yang ditandai oleh munculnya:

1. Fluency: ide-ide yang mengalir lancar
2. Fleksibel: memikirkan berbagai kemungkinan pemecahan masalah
3. Originalitas: mencari hal baru, yang belum ada atau lain dari yang lain
4. Elaborasi: melakukan dengan tuntas detail dan dari berbagai sudut pandang

Dari ungkapan di atas, anak kreatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

* selalu ingin tahu
* eksploratif
* tidak puas dengan satu jawaban
* suka mencoba hal-hal yang tidak biasa

Kreatifitas anak menurut Wahyudin (2007) adalah segala proses yang dilalui oleh anak dalam rangka melakukan, mempelajari dan menemukan sesuatu yang beru berguna bagi kehidupan dirinya dan orang lain. Proses pembelajaran di sekolah pada hakekatnya upaya merangsang kreatifitas anak berupa mengembangkan kecerdasan majemuk yang anak miliki.

Toto Chan (kisah cerita anak Jepang) misalnya saat bersekolah tidak nyaman bahkan gurunya menganggap siswa paling nakal dan aneh sehingga Toto Chan menemukan sekolah yang mempunyai pembelajaran yang berbeda (diferent learning). Akhirnya Toto Chan menemukan guru terhebat yang bisa membangkitkan kretifitasnya sehingga Toto Chan terinspirasi untuk selalu menjadi anak yang terbaik dan kreatif. Anak yang mendapatkan pelayan terbaik di rumahnya akan terinspirasi untuk menciptakan sebuah karya yang mereka banggakan.

Beberapa hal untuk memacu anak menjadi kreatif:

1. Menerima dan memacu munculnya perbedaan
2. Menghargai perbedaan pendapat
3. Mendorong anak untuk mempercayai penilaian pribadi mereka
4. Tekankan bahwa setiap orang mempunyai kreatifitas berbeda pada beberapa bentuk
5. Jadilah stimulan bagi pemikiran kreatif

Metode aplikatif yang dapat kita gunakan dalam memacu anak menjadi kreatif:

* Action Learning: Anak melakukan sesuatu secara mandiri. Orang tua atau guru berfungsi sebagai fasilitator
* Permainan yang merupakan simulasi dari seluruh kemampuan anak (Konogtif, Emosi sosial dan fisik)
* Eksplorasi: menggunakan seluruh sarana yang ada di lingkungan keseharian anak sebagai media
* Mengajak anak berdiskusi atau meminta saran mereka tentang suatu permasalahan atau pemecahannya
* Teladan: Orang tua dan guru memberi contoh perilaku kreatif

Kreatifitas bukan tergantung kepada IQ. Anak yang tidak cerdas (rendah IQ-nya) bukan berarti tidak kreatif. Anak kreatif bukan anak nakal melainkan anak kreatif lebih cenderung untuk fleksibel dalam mematuhi aturan.

Anak kreatif tumbuh dalam lingkungan yang merawat tetapi tidak membatasi, merangsang tetapi tidak mendikte, responsif tetapi tidak mengontrol, mendukung kemandirian tetapi tidak menuntut dan memberi kebebasan tetapi tidak mengabaikan serta mengajarkan nilai dan aturan tetapi tidak menuntut kepatuhan buta.

Dengan melihat uraian di atas, sudah saatnya kita sebagai guru dan orang tua memfasilitasi peserta didiknya dan putra-putri didiknya agar berhasil menjadi anak yang kreatif.