“Atik, udah tidur belum?” tiba-tiba suara surya memecah keheningan malam yang kala itu matanya susah terpejam diperaduan bersama 2 adiknya. “ belum mbak” jawab atik adiknya. Kemudian secara tidak sengaja mereka melihat si bontot arni yang tengah pulas tertidur. “Yah dia sudah tidur” kata surya. “iya mbak, aku tau kenapa mbak surya gak bisa tidur” atik mencoba menebak. “pasti sedang mikirin mak’e ya?” guraunya. “halah kamu juga kan?” jawab surya membela. Moment ini adalah moment yang paling di tunggu yaitu kedatangan sang ibu yang biasa di panggil mak’e oleh ketiga gadis kecil itu dari jakarta. Rasanya mereka tak sabar lagi untuk melepas kerinduan itu esok hari.

Yah,, tiga gadis kecil yang harus terpisah dari ibu tercinta karena faktor ekonomi. Sang ibu harus merantau ke kota metropolitan yang dikenal penuh dengan kompetisi itu. Sedangkan 3 gadis kecilnya harus ditinggalkan semenjak mereka masih duduk di bangku SD bahkan si bontot masih berusia balita. Ketiga gadis kecil itu berada dibawah pengasuhan sang nenek dan kakek yang senantiasa menyayangi mereka dengan caranya. Sedangkan sang Bapak juga senantiasa berusaha mencari nafkah untuk keluarganya meskipun keberuntungan belum berpihak padanya. Karena dari nafkah yang ia dapat jangankan untuk menghidupi anak istrinya, untuk menghidupi dirinya sendiripun belum tentu bisa. Kondisi itulah yang membuat sang ibu terpaksa banting tulang mengadu nasib di jakarta dengan berjualan. Merelakan anak-anaknya diasuh oleh sang nenek dan memendam kerinduan yang teramat dalam ketika baru saja meninggalkan kampung halaman terutama ketiga gadis kecilnya.

“horee mak’e datang….” seru ketiga gadis kecilnya menyambut kedatangan sang ibu pagi itu. “Assalamualaikum nak.” Sapa sang ibu. Ada satu keistimewaan yang senantiasa ditanamkan oleh sang ibu. Yaitu pendidikan akhlak dan agama kepada ketiga gadis kecilnya. Sang ibu senantiasa mengutamakan pembentukan akidah dan keimanan anak-anaknya ketimbang akademis atau urusan lain. Merekapun saling berpelukan melepas kerinduan setelah 3 bulan terpisah. “hayo siapa yang belum sholat subuh?” tanya sang ibu dengan penuh kasih sayang. “sudah donk mak” jawab mereka hampir serempak dengan wajah penuh dengan keceriaan karena tak ada moment paling bahagia selain saat – saat pertemuan itu. “mak’e bawa oleh – oleh apa?” tanya arni si bontot. Atik pun bergegas mengambil tas yang ditenteng sang ibu dan mereka bertiga pun berhamburan kedalam untuk membongkar isi tas itu berharap menemukan oleh-oleh yang di bawa mak’e.

“enak ya kalo ada mak’e, kita jadi gak masak, nyuci baju dan kerjaan yang lainya” ujar atik. “halah bilang aja kamu males atik” jawab surya, sedangkan arni hanya nyengir karena dia memang dianggap masih kecil untuk melakukan pekerjaan rumah tangga apalagi posisinya sebagai bontot yang biasanya dalam tradisi kampung mereka memang paling disayang. Ketika ada mak’e mereka memang merasa menjadi anak paling beruntung karena kasih sayang yang begitu dalam dan tulus dapat mereka rasakan dari seorang ibu yang baik. Mak’e terhitung gak pernah marah dalam hal pekerjaan, akan tetapi sebaliknya jika dalam hal beribadah terutama sholat mak’e akan sangat sensitif jika ketiga gadis kecilnya mulai lalai.

Seminggu sudah mak’e menunggui ketiga gadis kecilnya di kampung. Tiba saatnya untuk segera kembali ke perantauan untuk mencari sesuap nasi dan membiayai gadis-gadis kecilnya menuntut ilmu. “nduk, mak’e berangkat dulu yah…kalian baik  – baik dirumah dan jangan lupa shalat” pesan sang ibu. Ketiga gadis kecilnya hanya bisa mengangguk sedih, mereka ingin sekali menyalahkan waktu yang begitu cepat berlalu hingga saat – saat menyedihkan itu harus datang lagi. Ya, keberangkatan sang ibu adalah saat yang menyedihkan bagi mereka. Meski mencoba untuk ditutupi namun raut sedih terpancar dari wajah ibu dan anak itu. Tak kuasa mereka menahan gejolak di dada yang menolak mentah-mentah kenyataan pahit ini. Gadis kecil itu masih ingin berada dekat dengan sang ibu bahkan kalau boleh meminta mereka tak ingin sang ibu berangkat lagi ke kota yang penuh sesak itu.

Rutinitas itu kembali lagi, surya dan atik harus membagi tugas pekerjaan rumah tangga agar bisa selesai tepat waktu sebelum mereka berangkat sekolah. Karena sang nenek memang mengajarkan pada gadis-gadis kecil itu untuk mandiri dan senantiasa terbiasa dengan perjuangan hidup. Begitulah cara sang nenek menyayangi cucunya, ia akan marah ketika melihat cucunya malas dan tak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bangun dini hari, memasak, mencuci piring dan baju serta membersihkan rumah harus dipikul oleh gadis – gadis kecil itu sebelum mereka berangkat sekolah. Mereka merasakan hal itu sudah lumrah dan biasa karena memang di kampungnya anak-anak sudah dibiasakan untuk bekerja keras. Tapi di sisi lain mereka juga merasa sedih, seakan berontak dengan keadaan yang sedemikian rupa. Mereka pernah membandingkan dengan anak-anak di televisi yang terlihat menikmati kehidupanya dimana mereka bisa bermain bebas, belajar, jalan-jalan dan yang paling utama ditunggui oleh ibu masing-masing. Tapi ketiga gadis kecil itu mencoba bersahabat dengan keadaan yang memang harus dijalani dan tetap disyukuri. Hanya satu yang ada dalam benak mereka yaitu belajar dan terus belajar agar kelak bisa memperbaiki kehidupan mereka. Setidaknya jangan seperti ibu dan bapak yang hanya bisa lulus SD, kalian harus bisa sekolah yang tinggi nduk.. demikian pesan dan tekad sang ibu untuk ketiga putrinya.

“nduk,,mbak berangkat dulu ya..kalian jaga diri baik-baik dirumah. Dan belajar yang rajin” pesan surya sebagai sulung dari tiga bersaudara. “iya mbak,,” jawab kedua adiknya penuh haru dalam perpisahan kala itu. Rupanya surya harus bertolak ke jakarta untuk ikut mengadu nasib bersama sang ibu di kota yang penuh persaingan itu. Masih dengan persoalan yang sama yaitu karena faktor ekonomi surya tidak dapat melanjutkan belajarnya ke jenjang perguruan tinggi setelah kelulusanya dari smk. Tak banyak yang difikirkan surya kala itu hanya ingin mendapat pekerjaan untuk kemudian akan dipakai melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dan dapat menjadi sarjana sebagaimana impian ibunya. Seminggu, dua minggu pun berlalu. Lamaran demi lamaran ke perusahaan – perusahaan dan pabrik-pabrik pun telah disebar. Namun tak kunjung jua dapat panggilan kerja sebagaimana yang ditunggu-tunggu. “ono opo nduk?” make tiba-tiba membuyarkan lamunan surya. “eh..eh ndak papa mak” sergah surya mengelak. “halah, kamu ngelamun gitu kok.mikirin panggilan kerja ya?” tebak sang ibu. “mmmm..iya mak” surya mengaku. “yang sabar,,,nanti kalau sudah waktunya juga bakal ada panggilan. Yang penting kamu jangan lupa terus berdo’a dan rajin shalat malam” nasehat sang ibu. “tapi mak…kalau aku ndak dapat kerjaan nanti disuruh pake jualan juga kayak make” jawab surya takut kalau nanti tak jua dapat kerjaan dan nasibnya akan sama seperti kedua orangtuanya. Nampaknya sang ibu mulai menangkap keresahan anaknya. “kamu tenang aja nduk…do’a make tak putus-putusnya buat kamu InsyaAllah nanti kamu akan sukses asal mau berusaha dan berdo’a nduk” ibunya menguatkan. “iya mak…. matur nuwun” jawab surya sedikit lega dan mulai bersemangat lagi.

“Assalamualaikum… surya, ada telpon?” panggil tetangga yang mempunyai telpon rumah. “iya dari siapa ya?” jawab surya penuh harap. “ kalo gak salah dari PT. Techno” jawabnya. Tak sabar surya langsung berlari dan mengambil gagang telpon yang tengah menunggu. “ha….ll..ooo..”suara surya sedikit gugup. “hallo selamat siang, dengan suryaningsih?” terdengar pertanyaan dari si penelpon. “iya saya sendiri” jawab surya. “surya bisa datang untuk test interview besok?”.pertanyaan inilah yang selalu ditunggu surya….”Alhamdulillah…..” surya bersyukur.

to be continue…