Sarah Athaya Shalabiyya

Sarah Athaya Shalabiyya

30 Maret 2011,

Pagi,

Usia kehamilan masuk  minggu ke 40, rasanya dari detik ke detik begitu penting untuk sekedar menyadari sebuah tanda akan adanya kontraksi. akan tetapi karna ini adalah kehamilan yang ke -2 maka aku berusaha lebih santai dan menikmati kontraksi yang masih timbul tenggelam (kontraksi palsu). Pagi ini aku isi dengan berolah raga jalan santai bersama suami dan putri pertamaku.

Siang,

Setelah menemaniku jalan pagi, suamiku harus tetap berangkat ke kantor meskipun ada rasa khawatir ketika sewaktu-waktu aku membutuhkanya. ” nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabari ya, trus minta tolong dulu sama tetangga kalau sudah terasa kontraksi ” pesan suamiku setiap akan berangkat ke kantor. Siang ini aku jalani aktifitas seperti biasa, memasak, beresin rumah dan mengurus putri kecilku yang tengah duduk di bangku Tk A.

Sore,

Sore itu, aku berinisiatif  untuk mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk keperluan saat melahirkan nanti. Sebenarnya sudah ada sebagian yang disiapkan dan tinggal melengkapi saja kekuranganya. waktu terus beranjak dan aku tetap merasakan kontraksi yang masih datang dan pergi. selesai shalat isya’ suamiku pulang dari kantor, seperti biasa kusambut dengan ceria bersama putri pertamaku. disisi lain aku merasa lebih nyaman dengan keberadaanya dirumah, meskipun ibu ku sudah bersiap menemaniku melewati detik-detik persalinan nanti. tak lama dari kedatangan suamiku, kontraksi di perut lebih terasa dan semakin terasa, aku ingat pesan temanku ketika merasakan kontraksi menjelang melahirkan, sebaiknya dibawa aktifitas saja supaya tidak terlalu terasa sakit. Kubereskan perlengkapan yang akan dibawa ke dokter sebagai antisipasi ketika memang ini kontraksi asli. Untuk menyamarkan rasa sakit akibat kontraksi aku berjalan ke setiap sudut rumah sembari membereskan apa yang bisa dibereskan. semakin malam semakin terasa dan lebih hebat sakitnya. seingat aku ketika kontraksi sudah semakin sering maka itu sudah menjadi simbol akan ada proses kelahiran. aku semakin tidak bisa diam, karna apapun yang kulakukan pasti serba salah. sampai akhirnya aku telfon bidan yang kala itu menangani pemeriksaanku setiap bulanya. bidan itu terus mengontrol perkembangan kontraksi yang kurasakan. sampai akhirnya tepat pukul 24.00 malam aku diminta datang ke klinik untuk pemeriksaan dalam. Dengan rasa yang bercampur aduk, setibanya diklinik aku langsung diperiksa oleh suster dan hasilnya sudah pembukaan 5. Ini artinya aku tinggal berjuang 5 pembukaan lagi untuk bisa mengantarkan bayiku ke dunia. tapi memang tak semudah yang kita rencanakan, menanti pembukaan itu rasanya waktu berjalan begitu lambat. merasakan kontraksi demi kontraksi yang datang silih berganti dan rasa itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. suster senantiasa membimbing untuk menarik nafas panjang dan mengeluarkanya melalui mulut, dengan cara ini mampu mengurangi rasa sakit dalam menanti pembukaan lengkap. Kira-kira pukul 04.30 pagi sang bidan menyatakan pembukaan sudah lengkap dan bayi siap dikeluarkan. bidan dan asistenya sibuk mempersiapkan berbagai perlangkapan dan peralatan yang dibutuhkan untuk proses melahirkan. tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi yang diiringi dengan rasa haru dan syukur karna bayiku sehat tak kurang suatu apapun. selamat datang di dunia putriku sayang, semoga Allah merahmati dan memberkahimu, menjadikanmu anak yang penuh bakti pada agama Allah, anak yang bertaqwa dan shaliha..selamat dunia kahirat amin. (kenangan, 31 maret 2011) with ” Sarah Athaya Shalabiyya ”

sarah : istri nabi ibrahim

athaya : pemberian hadiah

shalabiya : gadis yang manis.